Ayo bergabung bersama kami sekarang !

Isi formulir
Mengenal Sahabat Menulis Nusantara
Baca dan kenali SMN-Indonesia.
08 Oktober 2017
Kirim Tulisanmu di SMN-Indonesia
Mari berkarya bersama Sahabat Menulis Nusantara
08 Oktober 2017
Flexible Display providing efficient compatibility.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016
Customize it to the deepist according to the needs.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016

Kamis, 19 April 2018

ULANG TAHUN KE 26 DAN SEBUAH SURAT UNTUK AYAH

Ahmad Fatoni
ULANG TAHUN KE 26 DAN SEBUAH SURAT UNTUK AYAH
Oleh: Ahmad Fatoni

Pernah Rita bilang kepada Ayahnya agar ulang tahunnya tidak pernah sekalipun dirayakan. Meniup lilin di atas kue tar, menyuapkan kue kepada orang yang tersayang, dan menerima hadiah dari temannya. Sungguh dia tidak senang melakukan kegiatan rutin itu. Apalah gunanya meniup lilin, berdoa sebelum meniupnya dan sebagainya. Atau pernah satu kali dia diberikan kejutan oleh teman-temannya di sekolah. Tanpa bilang-bilang, Teman-temannya membawa tepung dan telur yang dilumurkan ke tubuhnya. Lantas dia kesal sekali. Apakah harus seperti itu. Tanyanya dalam hati. Terpaksa dia pura-pura bahagia, terharu, menitikkan air mata di depan teman-temannya hanya karena takut teman-temannya kecewa dia tidak senang mendapat kejutan itu.
Sebenarnya Rita lebih senang mendapat kejutan lain. Kejutan yang lebih dari itu. Ucapan sederhana saja, doa sederhana saja, tanpa harus repot-repot membeli kue tar, telor dan tepung, hadiah-hadiah, dan segala persiapan ketika acara ulang tahun di rumahnya. Tanpa itu adalah kejutan yang luar biasa.
Tapi dia tidak bisa berkata tidak senangnya pada teman-temannya. Hanya kepada Ayahnya saja. “Tidak usah repot-repot ayah. Cukup Ayah di sisi Rita, Rita sangat bahagia.” Katanya suatu ketika. Dia menolak rencana Ayahnya membuat acara ulang tahun untuknya.
“Mamamu sering melakukannya untukmu. Sebelum Mamamu meninggalpun dia sempat menyuruhku membelikan kue Tar untukmu. Dia ingin melihat ulang tahunmu terakhir kalinya.” Jelas Ayahnya ketika Rita menolak secara lembut.
Mama Rita meninggal pas ketika ulang tahun Rita yang ke-16. Setelah Rita meniup lilin di atas kue. Mamanya pun mengatupkan matanya dan tarikan nafasnya yang terakhir. Dia dikena penyakit kanker otak kronis. Satu bulan lamanya Mama Rita berada di rumah sakit hingga kemudian meninggal.
“Tapi Aku tidak mau, Ayah. Dari kejadian itu bukan berarti Mama menyuruh Ayah mengadakan ulang tahun rutin untuk Rita.” Bantah Rita dengan lembut.
Ayah Rita mendekat. “Ayah akan selalu ada di Sisimu. Jangan Khawatir.” Tangannya mendekap tubuh Rita. Tapi Rita mendengus kesal. Tak pernah ayahnya di sisiny. dia haya sibuk denga diriny sendiri. “Tapi acara ulang tahun tetap akan dilaksanakan. Biar teman-temanmu datang ke sini. Biar ramai rumah ini. Sejak kepergian mamamu, Rumah ini sedikit sepi.” Lanjutnya.
Rita mengerti dengan paksaan itu. Ayahnya ingin Rita punya teman yang serius untuknya. Alasan itu muncul sejak Rita sudah berumur dua puluh tahun dan dia tumbuh menjadi perempuan cantik. Apalagi sekarang, Umurnya sudah Dua puluh lima dan Rita masih menutup diri pada laki-laki. Bukan karena sulit, tapi memang Rita tidak mau diajak pacaran. Di dalam pikirannya hanya Ayahnya. Dia ingin terus dekat dengan ayahnya.
Terkadang dia harus menelpon Ayahnya, menyuruhnya pulang cepat-cepat dari kantor ketika dirinya gusar. Pikirannya tidak nyaman. Seperti ada yang mengejar dalam dirinya.
Tapi ayahnya tidak pernah pulang dan mengirimkan teman Rita sendiri untuk menemaninya hingga Ayahnya pun pulang. Maklum Ayah Rita adalah seorang bos di sebuah perusahaan. Jadi dia sangat sibuk di kantornya.
Rita pun sabar. Tapi Rita berharap ayahnya sudah membaca surat di meja kerjanya. Meja yang dia tulis seminggu yang lalu dan diletakkan di meja kertas Ayahnya ketika itu juga. Dia menulisnya ketika usianya sudah dua puluh lima. Setelah acara baru saja selesai tadi malam. Ya. Pagi hari dia menulisnya.
***
Tahun ini adalah tahun yang berat bagi Rita. Tubuhnya semakin lemah dan kurus. Ketika ditanya oleh Ayahnya kenapa dia sekarang. Rita tidak menceritakan apapun.
Dia bilang “Bergaullah! Jangan berkurung di rumah terus. Lihatlah tubuhmu semakin kurus.”
Rita tidak menghiraukan itu. Dia hanya ingin dekat dengan Ayahnya. Sepanjang malam. Dan pertama tidak ingin merayakan ulang tahunnya yang ke-26. Dia ingin mendengar Ayahnya solat dan berdoa untuknya ketika hari ulang tahunnya.
Rita sering bertanya kepada Ayahnya. Apakah dia sempat mendoakannya. Sesuai pintanya waktu itu. Ayahnya menjawab iya. Tapi Rita tahu, Ayahnya tidak pernah melakukan itu. Meski Ayah Rita menjadi kepala keluarga yang baik dari sisi nafkah keluarga, tapi Rita tidak pernah melihat Ayahnya menengadah di atas sajadah, apalagi solat. Entah kenapa dia ingin melihat Ayahnya solat. Satu kali saja dalam hidupnya.
Sepanjang hari tidak ada yang Rita lakukan. Ayahnya sebenarnya sudah memberikan posisi kerja. Tapi Rita bilang belum siap. Nanti jika dia sudah siap mengambil posisi itu, dia akan bekerja di perusahaan ayahnya itu.
Kerjanya hanya di kamar. Memandangi atap, sembari tiduran di kasur atau duduk di dekat jendela, memandangi ladang pohon pisang. Ya. Tahun ini dia lebih sering memandagi ladang itu. Lebih sering dari sebelumnya. Ada kuburan Mamanya di sana. Lantas Rita menitikkan air mata, mengusap dengan tisu, atau sampai terisak, hingga seorang yang lewat dekat rumahnya harus terheran-heran melihat tingkah Rita.
Ketika ayahnya datang malam-malam karena sering lembur di kantornya. Dia hapus seluruh air matanya, bangun dari lamunannya. Semangat tiba-tiba datang, dia bertanya banyak hal, apakah sudah berdoa untuknya, apakah suratnya sudah di baca. Ayahnya akan menjawab ’Iya nanti’. Rita kembali harus pura tersenyum. Dia tak tega menampakkan kekecewaan di hadapan orang tua yang baru saja bekerja. Hingga kemudian Ayahnya kembali ke kamarnya. Lalu Rita mengantar air hangat untuk Ayahnya. Hanya pura-pura. Dia ingin tahu ayahnya sedang melakukan solat apa belum dan membaca suratnya apa belum.
Tapi masih sama dengan sebelumnya. Bisa dikata belum sempat Ayahnya melakukan hal itu. Tapi Rita tetap berharap dia akan melakukannya.
Hingga tiga hari sebelum hari ulang tahun Rita, Segala suasa hatinya berbeda. Dia mulai diam. Entah kenapa, Pernak-pernik di rumahnya, pemeriah hari ulang tahunnya seperti tak ada. Ayahnya mengambil cuti selama seminggu dari kantor demi acara ulang tahun anaknya meriah. Teman-teman Ayahnya diundang menjadi panitia. Sepertinya hari ulang tahun kali ini lebih meriah. Tapi tidak untuk Rita. Dia gusar di dalam rumah. Tubuhnya semakin kurus.
Hari H sudah berlangsung, Acara ulanng tahun berlangsung di dalam rumah dan halaman. Tapi Rita tidak keluar sejak malam. Membuat seluruh undangan terheran-heran. Begitu juga dengan Ayah Rita.  
Ayah Rita mulai gusar juga. Sedang tamu mulai bercanda tawa, ada yang berbisik karena yang ulang tahun belumlah keluar. Kemudian Ayah Rita menjemput Rita ke dalam kamar. Rita Terkejut. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya semakin krempeng. Seperti tua melampaui umurnya
“Ayo. Jangan biarkan tamumu bingun yang ulang tahun belum keluar.” Ajak Ayahnya.
Rita membalikkan badan dari arah jendela. “Ayah sudah baca surat di meja?” Tanya Rita
“Ada apa dengan surat itu. Lebih penting acara hari ini ayo.” Paksa ayahnya.
“Semuanya akan berubah jika Ayah belum baca  surat itu.”
“Iya nanti. Sekarang ayo temui tamumu dulu.”
Mereka keluar dengan sedikit ragu. Wajahnya semakin pucat. Dia tidak bisa menolak Ayahnya. Pokoknya dia tidak bisa menolak Ayahnya. Dia harus keluar bersamanya. Dan Tiupan lilin itu. Merubah segalanya. Seperti matahari yang redup ketika berubah menjadi malam. Semuanya tidur, tak terlihat. Mereka semua berada di alam lain. Alam yang berbeda dari Rita. Rita penghuni manusia penunggu pada mahsyar.
Diboponglah tubuh Rita yang milik dunia ke kamarnya. Tak sempat Rita memotong kue untuk dipersembahkan pada orang tersayang. Matanya tertutup seiring matinya lilin.
Tangis bersahut-sahutan dari teman-teman Rita. “Wajahmu seperti tak punya kebahagiaan di dalam istana perkasa ini.” Ucap salah satu dari mereka melihat tubuh kurus Rita.
Ayah Rita berlari. Teringat sesuatu pada surat di mejanya.  Berlarilah sekencang tenaganya di lorong rumah hingga sampai di kamarnya sendiri. Dia masuk. Teringat kalimat anaknya yang sering membujuknya untuk membaca surat itu. Teringatlah dia tak memperdulikan ananya

Untuk ayahku,

Seorang lelaki telah menyelinap ke kamarku ayah. Dia lancang merenggut sesuatu paling berharga dalam diriku. Ketika berhari-hari engkau meninggalkanku. Sebulan kemudian badanku demam. Aku kena penyakit ganas. Dari seorang dokter memberi sebuah kabar, aku terkena penyakit mengganaskan akibat perenggutan berharga itu.
Ayah aku hanya butuh engkau di sisikku. Sampai ulang tahunku yang ke 26. Segalanya akan terjadi hari ulang tahunku mendatang.

Dari anakmu.


Sarang, 20 April 2018

Jumat, 02 Maret 2018

Aku tentang Dirimu dan Dirinya

isma hidayati

Aku tentang Dirimu dan Dirinya

Aku bermimpi
Selalu bermimpi
kapan kita bertemu?
Akankah kita dapat bertemu?
Aku mengerti tentang dirimu
Yang tak tentu
Aku juga mengerti tentang dirinya
Yang membuatku tak tenang
Apakah kau masih berfikir?
Apakah dia masih berfikir?
Memikirkan tentangku
Semua tentang dirinya dan dirimu
Bertemu denganku
Dalam mimpi terindahku
Debu bersayap yang jatuh
Hujan membilas wajah manisnya
Aku hanya bisa bahagia
Bahagia, bahagia dalam mimpi
Sejenak untuk hari ini

Selasa, 13 Februari 2018

Redaksi smnindonesia


Jangan, hentikan...
Mengapa gerangan murung dan menangis, 
Tak sudi mata ini tuk menatap air mata yang menetes,
Tak jua sudi tangan ini tuk menyerka raut tertekuk wajah indahmu.
Bagi padaku jika semua terlalu sakit,
Beri padaku jika semua terlalu menyiksa.


engkau kasihku, yang selalu ku jaga
Tak satu alasan yang pantas tuk membuatmu terluka 
Tak satu alasan yang pantas tuk membuatmu berduka.
katakan siapa, biar ku berikan takdir yang bahagia, kan ku sembuhkan luka kan ku berikan asa.


sayangku,
jangan lakukan pada ragamu yang anggun,
Hentikan untuk jiwamu yang lembut.
biarkan semua berlalu dan lupakan,
semua hanya kerikil untuk membuatmu semakin menawan.
semua hanya semu untuk membuatmu semakin rupawan.

Dhiya Aprilia

Kemenakan Yang Tampan Dan Cantik

Redaksi smnindonesia


Kemenakan Yang Tampan Dan Cantik

Oleh : I Wayan Budiartawan

Hatiku terhibur di rumah
Saat kemenakan datang
Laki perempuan menggugah semangat
Aku membujang tapi bahagia

Kemenakanku yang sulung gadis
Beranjak dewasa baru masuk universitas
Dia abdikan hidupnya untuk fisioterapi
Bersama pemuda tampan idolanya

Yang laki-laki terkecil
Bangga dengan sepeda hadiah mamanya
Bermimpi tentang masa depannya
Di desa menjadi petani sederhana

Kemenakan laki-laki satunya sangat pintar
Mulai belajar naik motor dengan gagahnya
Anak kecil harapan keluarga
Penerus tahta yang akan datang

Hidup Berdua Dengan Ayah

Redaksi smnindonesia

Hidup Berdua Dengan Ayah

Oleh : I Wayan Budiartawan

Ayahku sudah berumur tua
Tubuhnya renta dan tenaganya menurun
Dia hanya bisa mengambil kayu bakar
Untuk memasak sehari-hari

Ayah mempersiapkan makanan untukku
Beras sumbangan dari balai desa
Serba kekurangan memang hidup kami
Sawah terjual sebagian untuk berobat

Tahun-tahun berlalu sejak aku lumpuh
Ayah mengerjakan pekerjaan dapur
Mengganti pakaian yang kotor
Mencuci bersih pakai air ledeng

Ayah tidak pernah mengeluh
Tabah menghadapi penyakitku
Sabar melaksanakan kewajiban
Hingga aku terurus dan terawat baik

Budi Baik Teman Sekolah

Redaksi smnindonesia

Budi Baik Teman Sekolah

Oleh : I Wayan Budiartawan

Teman-teman mengulurkan tangan
Memberi bantuan beramai-ramai
Sungguh penuh perhatian
Saat diriku dirundung kemalangan

Aku bermukim di kampung
Teman-teman datang dari kota
Semua sekarang telah separuh baya
Simpati mengalir dari kawan seperjuangan

Teman kuliah menyisihkan penghasilan
Masing-masing mengumpulkan uang
Buat tabungan  hari tua
Untukku karena tidak dapat bekerja

Foto-foto kenangan semasa sekolah
Kembali dibuat dengan situasi kini
Saat aku duduk dikursi
Dengan kaki lumpuh menunggu sore

Dua Puluh Tahun Pembaringan

Redaksi smnindonesia

Dua Puluh Tahun Pembaringan

Oleh : I Wayan Budiartawan

Aku tergolek di kasur tua
Kakiku lumpuh tak bisa bergerak
Dua puluh tahun lamanya 
Aku menderita sakit jiwa dan saraf

Ketika itu suhu tubuhku meninggi
Tiga hari lamanya tak kunjung reda
Kemudian badanku lemas
Tidak bisa berdiri dan berjalan

Aku digotong ke rumah  sakit
Selama tiga bulan aku menghuni bangsal
Dokter perawat menghibur dan membesarkan hati
Penyakitku tidak bisa pulih 

Kini hari-hari penuh kenangan
Hidup sebagai lelaki cacat
Kugoreskan pena dan kisahku mengalir
Kututurkan pada handai taulan


Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib