Ayo bergabung bersama kami sekarang !

Isi formulir

Kamis, 26 Januari 2017

AIR MATA SURGA

Siti fatimah mandini


AIR MATA SURGA
Oleh: Zakiyal Fikri Muchammad

"kring...kring...kring...."
Bunyi jam beker memecah seisi kamar Halimah. Ia terus berdering tanpa henti hingga Halimah terkejut dan bangun. Dengan mata yang sedikit terpejam, ia pun mengulurkan tangannya untuk mengambil jam beker yang berada di meja sebelah kirinya.

"Hemmmm....jam berapa sih kok udah bunyi. Ganggu aja!". Kata Halimah kesal.
"Wah jam enam!" Dia terkejut. Sambil mengusap-ngusap kelopak matanya. Tanda ia tak percaya.
"Waduh telat nih, pelajaran pak Bowo lagi. Sekali telat langsung disuruh keluar". Celotehnya lagi.
"Ibu..ibu ..." Panggil Halimah dari dalam kamar.
"Iya nak, ada apa. Ibu lagi masak nih Sebentar.
"Udah sini Bu, masaknya tinggalin dulu". Bentak Halimah sambil terus berkali-kali memanggil ibunya. Sang ibu, yang gerah mendengar anaknya terus berteriak dan bahkan membentak keras dirinya, akhirnya mengalah dan menuju ke kamar si putri nya itu sambil tergopoh-gopoh.
"Ada apa sih, nak.? Pelan-pelan kan bisa!. Gak tahu ibu lagi sibuk masak yah? " Tanya ibunya mulai emosi.
"Ibu gimana sih?"
"Gimana kenapa nak?"
"kenapa tadi gak bangunin Halimah. Nih udah jam enam, kan jadi telat berangkat sekolah. Belom lagi mandi terus makan. Halimah gak berangkat ah, mending main aja." Bentak Halimah sambil melempar jam Beker ke atas kasur.
"Ibu gak denger alarmnya nak, jadi gak langsung ke kamarmu. Lagian ibu juga lagi di dapur tadi."
"Alah Bu, gak denger apa sengaja?". Katanya marah.
"Ya Allah nak, kamu bicaranya kok gitu sama ibu. Gak sopan. Bener, itu nak".
Bukanya mendengar sang ibu lagi bicara, Halimah malah pergi menuju keluar kamar sambil bertetiak. "Mana masakanya, kok belom mateng?".
"Belom, baru aja masak." Kata ibu lirih.
"Ibu gimana sih, jam segini masakan juga belom matang. Udah telat lagi, ah".
Halimah semakin sebel, matanya merah. Hatinya dongkol. Tanpa tak terkontrol, akhirnya ia pun melampiaskan kemarahanya itu dengan memecahkan piring di meja makan dan prang.....bunyi percikan kacanya mengenai setiap sudut lantai.
"Ya Allah nak, kamu kok jadi begini. Ibu salah apa sih?" 

Sang ibu kemudian menangis sambil meneteskan air mata melihat putrinya bertingkah seperti itu. Sang ibu begitu tak menyangka, Halimah sebagai anak tersayangnya, sudah mulai berani melawannya. Padahal dulu, sekalipun manja, tapi ia anak yang pendiam dan pemalu. Namun sekarang justru berubah drastis, ia menjadi seorang remaja yang mudah marah dan egois. Tak henti-hentinya sang ibu menangis tersedu, air matanya terus mengalir dan menetes sampai membasahi pelipis matanya. Sementara Halimah, pergi entah kemana. Di sela-sela tangisnya, ia bergumam : "ya Allah, apa salah hamba, hingga anakku menjadi seperti ini. Ya Allah ampunilah dosanya, jadikanlah ia anak yang shalehah dan patuh kepada orang tuanya."

Halimah masih kabur dari rumah. Sudah setengah hari ia belum juga kembali. Sang ibu semakin cemas. Ia terus saja menyebut nama anaknya itu. Ia hanya bisa terdiam duduk di rumahnya. Sesekali ia tertidur, namun kemudian terbangun lagi. Bahkan tak jarang juga mengigau nama Halimah. Keresahannya terus menjadi hingga ia pun keluar rumah, untuk memastikan apakah putrinya sudah pulang atau belom. Ia terus memandangi lorong jalan di depan rumahnya. Siapa tahu sang putrinya kembali. Di sela-sela ia tengah-tengah termenung, ia tak sengaja melihat Zahra, teman Halimah di sekolah yang lagi berjalan Melawati depan rumahnya. Dengan begitu sigap, ia pun langsung memanggilnya.

"Zahra..Zahra...sini nak!"
Zahra pun menoleh dan langsung menjawab panggilannya.
"Ada apa bu?". Tanya Zahra penasaran
Dengan suara terbata-bata, sang ibu menjawab "kamu tahu Halimah gak? dari tadi belum pulang-pulang juga. Ibu kawatir kalo ada apa-apa sama dia".
"Gak bu, tapi kayaknya lagi di rumah Dini. Biasanya dia main ke sana. Nanti saya yang jemput Halimah. Ibu tenang aja". Kata Zahra meyakinkannya.
      Mendengar jawaban Zahra, sang ibu malah sedih lalu menangis. Ia tak berkata-kata. Hanya diam dan sambil mengelus-elus dadanya. Melihat seperti itu, Zahra terkejut bukan main.
"Ada apa, ibu kok nangis. Ibu sakit?". Tanya Zahra khawatir.
"Gak apa-apa ko, ibu cuman kecapean kayaknya".
"Ya sudah, ibu masuk kamar aja terus istirahat. biar Zahra aja yang cari Halimah".
"Terima kasih Zahra". Ucap sang ibu lemas.
Zahra lalu langsung bergegas mencari Halimah di rumah Dini. Saat tiba di sana, ia menemukan Halimah tengah tertawa terbahak-bahak dengan teman-temannya sambil makan-makanan ringan. Melihat hal itu, Zahra geram dan menarik Halimah dari kerumunan temanya menuju pelataran. Dengan nada marah, Zahra membentak :
"Ibu lagi sakit-sakitan, kamu malah tertawa di sini. Tuh ibumu nangis terus. Nunggu kamu, kapan pulang". Katanya jengkel.
"Biarin, nangis terus. Ibu udah gak sayang lagi sama Halimah". Jawabnya enteng.
"Halimah! Itu ibumu. Durhaka kamu bilang begitu". Bentak Zahra lebih keras lagi.
"Jahat kenapa emang? Sampai kamu berani memgatai ibu seperti itu"
"Gak jahat gimana, lah aku jadi gak sekolah gara-gara gak dibangunin. Padahal dia udah bangun duluan. Alasannya lagi di dapur, gak denger alarm. Siapa yang gak jengkel kalo seperti itu?".
"Cuma masalah itu, kamu berani bilang ibu jahat. Kamu keterlaluan Halimah. Keterlaluan." Gertak Zahra kesal.
"Sekarang lihat, ibumu di rumah. Sekarang ia lagi terbaring di kamar. Badannya lemas. Kelopak matanya merah karena menangis terus. Hanya karena khawatir padamu, kenapa gak pulang ke rumah. Itu, kamu bilang ibumu jahat. Kamu yang jahat Halimah!".
"Apakah kamu gak takut dengan hadits nabi yang mengatakan: "Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan juga seorang dayyuts (merelakan kejahatan berlaku di dalam keluargannya, merelakan istri dan anak perempuannya seorang)". Coba pikirkan ini, Halimah!". Kata Zahra kepadanya.
"Sekarang pulanglah!. temui ibumu lalu minta maaf. Kalo perlu menangislah di pangkuannya, sambil mengaku salah. dan satu lagi halimah, kamu harus tahu bahwa surga itu  ada di telapak kaki ibu.  jangan sampai ibumu menitihkan air mata gara-gara keegoisanmu. Jika kamu sampai membuatnya menangis, berarti kamu telah menodai air mata surga itu. Maka sadarlah Halimah!. Udah sekarang pulang sana!. Sebelum ibumu tambah sakit-sakitan!". Kata Zahra menasehati Halimah.
Mendengar perkataan Zahra yang begitu memojokkan dirinya, Halimah mulai tersadar bahwa dirinya salah. Matanya langsung berkunang-kunang. Tatapan matanya kosong. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan. Dengan malu-malu, akhirnya ia pun mau pulang ke rumah.
"Kamu betul ra, aku salah. Sudah membuat ibu menangis. Aku telah durhaka kepadanya. Aku harus minta maaf untuk kali ini". Kata Halimah kepada Zahra. Dengan malu-malu, akhirnya ia mengajak Zahra pulang menemui sang ibu. "Ayoo ra, anter aku pulang". Ajaknya sekali lagi.
Keduanya kemudian pulang menemui sang ibu. Setibanya di rumah, Halimah langsung berlari menuju ibunya yang sedang terbaring. Lalu ia memeluknya sambil menangis begitu keras. Air matanya tak bisa tertahan. Semuanya tumpah menjadi jeritan pilu. Yang terasa hanya penyesalan dan kesedihan. Sementara Zahra, hanya tediam di sudut pintu melihat suasana haru seperti itu. Ia pun ikut terhanyut dan menangis.
Sambil menagis, Halimah menyesali dirinya. "Ibu, maafkan Halimah. Halimah sudah membuat ibu sedih hingga menangis seperti ini. Sekali lagi, maafkan anakmu ini".
"Ibu sudah memaafkanmu nak, ibu cuma khawatir kamu terus-menerus marah pada ibu, dan gak mau pulang. Sudah jangan menangis lagi". Kata sang ibu sambil mengusap air mata putrinya.
"Halimah gak akan ngulagin kaya gini lagi Bu. Halimah janji. Sekarang ibu adalah satu-satunya yang kumiliki. Jangan sampai ibu menangis lagi!".
"Iya nak, jaga dirimu baik-baik yah" 

Keduanya masih terus berpelukan. Menumpakah rasa sedihnya yang amat mendalam. Terutama Halimah, ia begitu erat memeluk ibunya itu dengan diiringi tetesan air mata yang terus mengalir dari kelopak matanya yang sipit. "Yaa Allah ampunilah dosa ibu ku, dan kasihanilah ia. Berilah kesehatan untuknya. Teguhkanlah imannya. Yaa Allah, aku salah, sekarang aku datang kepadamu untuk menebus dosa-dosa ku ini. Maka ampunilah aku." Gumamnya dalam hati.
Begitulah ibu. Rasa kasih sayangnya begitu besar. Tak mampu untuk menghitungnya. Senakal apapun seorang anak, sang ibu pasti akan terus berdoa untuk kebaikan  anaknya itu. Sepedih apapun ia disakiti, begitu mudah ia memaafkan. Ia tak butuh sanjungan apalagi penghargaan. Yang ia butuhkan, hanya kebahagiaan dan kesalehan untuk putra-putrinya. Begitulah ibu. Ia adalah simbol surga yang sesungguhnya.
Depok, 20 Desember 2016
-------------------------------------------------------------------
Kirim tulisanmu di Nulis.
Cerpen, puisi, artikel atau karya tulis lainnya.

Siti fatimah mandini / Author

Mari berkarya bersama Sahabat Menulis Nusantara.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib