Ayo bergabung bersama kami sekarang !

Isi formulir

Minggu, 15 Januari 2017

DETIK BERSAMA AYAH

Sy Tahtra


(1/2)
DETIK BERSAMA AYAH
Oleh : Indira Isvandiary – Bekasi
Untuk beberapa saat, Dinda masih terus memerhatikan ponselnya yang berkedip karena panggilan dari ayah yang tidak kunjung ia angkat. Ia sengaja mengheningkan ponselnya agar tidak berbunyi selama ia mengikuti kegiatan latihan drama di sekolah. Kedipan itu berakhir, disusul dengan keterangan bahwa sudah kali ketujuh telepon ayah, Dinda abaikan.
“Din!” Raya memanggil Dinda yang sedang duduk berselonjor, “Kita mulai latihan sekali lagi sebelum pulang!”
Dinda mengangguk mengiyakan.
Di rumah, ayah duduk dengan wajah cemas di ruang tamu. Sesekali matanya memandang jam dinding rumah seolah merasakan tiap detik dari jarum jam yang terus berputar. Sudah hampir pukul 7 malam, Dinda belum pulang sekolah. Hingga ketukan pintu dan suara salam Dinda terdengar, ayah segera berdiri dan menyambut kedatangan anak bungsunya itu, “Dinda! Kenapa kamu tidak menjawab telepon Ayah?! Ini sudah gelap, anak perempuan tidak boleh terlalu sering pulang malam! Memangnya harus setiap hari? Dan…”
Dinda memotong ucapan ayah, “Yah, kan aku sudah bilang, beberapa hari belakangan ini aku ada latihan drama untuk acara di sekolah.”
“Iya, Ayah tahu, tapi…”
“Yah!” Dinda kembali memotong, “Ayah sadar tidak, hampir setiap hari Ayah seperti ini setiap Dinda pulang. Ayah kan sudah tahu, kecuali bila Dinda tidak memberikan alasan mengapa pulang terlambat, Ayah boleh marah. Tapi, Dinda kan sudah menjelaskan semua.”
“Tapi kan kamu bisa menjawab telepon dari Ayah. Ayah hanya khawatir, Dinda.”
“Ayah terlalu berlebihan. Ayah tenang saja, Dinda tidak akan seperti Ibu dan Kak Dio. Lagi pula, Dinda sudah besar, tidak perlu dikhawatirkan sampai seperti itu.” Dinda tidak lagi memandang ayahnya, “Berhentilah meneleponku, berhentilah menungguku pulang.”
Ayah tentu saja terkejut mendengar ucapan terakhir Dinda. Tetapi, demi membahagiakan anak bungsunya itu, ayah menuruti kemauan Dinda meskipun dengan berat hati, “Baiklah Dinda, maafkan Ayah.”
Ayah masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk di tepian tempat tidur dengan wajah sendu. Pandangannya kini menoleh ke sebuah bingkai foto berukuran sedang, yang tertempel di dinding. Ayah tersenyum tipis, memandang potret kebersamaan dirinya dengan sang istri dan ketiga anaknya, Dani, Dio dan Dinda.
Ucapan Dinda semakin jelas terdengar di dalam pikiran ayah bersamaan dengan pandangannya yang semakin redup pada bingkai foto itu. Ayah semakin larut dalam kesedihan. Tidak jarang, ia merasa masa tuanya akan berakhir menyedihkan, hidup sendiri tanpa ada lagi canda dan tawa dari keluarganya. Apalagi semenjak sang istri dan anak kedua mereka meninggal dalam tragedi kecelakaan lalu lintas dua tahun silam. Serta Dani, anak sulungnya yang telah menikah dan memiliki kehidupannya sendiri.
Ayah menghela napas, menyesali perasaan sedihnya harus kembali datang. Bagi ayah, bagaimanapun perasaannya, hidup harus tetap berjalan. Masih ada Dinda yang harus ia hidupi di rumah sederhana mereka, bersama warung kecil sebagai sumber penghasilan keluarga. Ayah memutuskan untuk mengakhiri kesedihannya, menutup malam dengan memeluk bingkai foto lainnya, yang berukuran lebih kecil, yang berisi potret kebersamaannya dengan Arini, belahan jiwa sekaligus ibu dari ketiga anak tercintanya.
Pagi kembali tiba, ayah telah siap dengan nasi goreng buatannya di atas meja makan. Dinda yang juga telah siap dengan seragam sekolahnya, telah duduk di ruang makan.
“Dimakan ya, Dinda.” ujar ayah.
Dinda mulai menyantap nasi gorengnya, sementara ayah kini duduk dihadapan Dinda dan memandangnya. Dinda yang menyadari hal itu, lalu berkata, “Ayah ingat kan ucapanku tadi malam? Aku harap Ayah mengerti.”
Ayah tersenyum seadanya, dan melepas kepergian Dinda bersama motornya ke sekolah.
Sore kembali tiba, lagi-lagi ayah kembali cemas. Sekeras apapun ia berusaha untuk tidak menelepon dan menunggu Dinda, tetap saja ia tidak bisa berhenti menatap jarum jam yang semakin kejam berputar dengan suaranya yang merusak gendang telinga akibat beratnya sebuah penantian.
Ayah mengambil ponselnya, lalu bersiap menekan nomer telepon Dinda. Namun, ia tiba-tiba ragu dan kembali mengingat ucapan Dinda. Hingga pada akhirnya, ia mengurungkan niatnya untuk menelepon, “Ini sudah jam setengah delapan malam, atau saya susul saja ya ke sekolahnya?” ujar ayah dalam hatinya.
Di sekolah, Dinda berlatih drama dengan sejahtera. Tidak ada gangguan telepon dari ayahnya. Hari itu merupakan hari yang panjang bagi Dinda karena latihan tersebut adalah latihannya yang terakhir sebelum ia benar-benar tampil di panggung pentas drama.
Latihan drama akhirnya selesai, Dinda dan seluruh anggota ekstrakurikuler drama diperbolehkan untuk pulang. Namun, Dinda dan temannya, Raya, memilih untuk beristirahat sejenak dan duduk-duduk santai.
“Kamu tidak langsung pulang, Din?” tanya Raya yang langsung meneguk sebotol air mineral.
“Lima menit lagi.” Dinda mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu melihat tidak ada telepon dari ayah, Dinda tersenyum.
Setelah beberapa menit beristirahat, ponsel Dinda yang tidak diheningkan, tiba-tiba berbunyi menandakan adanya panggilan masuk. Dinda membaca layar ponselnya, tertulis ‘Ayah’.
“Kok tidak diangkat?” tanya Raya, “Siapa, Din?”
“Ayahku.”
Raya memicingkan matanya pada Dinda, “Angkat Dinda! Kamu jangan seperti itu. Lagi pula, latihan kita sudah selesai.”
Baru saja Dinda hendak menjawab telepon ayah, panggilan itu berakhir, “Yah, mati.”
“Telepon lagi, Din.” saran Raya.
“Baiklah.”
Dinda menelepon ayahnya, namun ketika telepon itu diangkat, suara wanita justru yang menyambut panggilan Dinda.
“Lho, ini siapa?” tanya Dinda bingung.
Dinda berpamitan dengan Raya untuk pergi, bersamaan dengan itu, Dinda tidak dapat menahan air matanya yang membludak keluar setelah suara Suster itu mengabarkan bahwa ayahnya mengalami kecelakaan dan kini tengah berada di ruang Unit Gawat Darurat. Dinda menarik gas motornya dengan cepat menuju rumah sakit.
Kini, Dinda telah duduk di kursi tunggu rumah sakit. Tidak lama berselang, seorang Suster datang menghampiri keberadaannya, “Maaf, kamu Dinda, anak dari Bapak Riyanto?”
Dinda segera berdiri, “Bagaimana Ayah saya Suster?”
“Dokter sedang berusaha, Dinda. Saya ke sini, mau mengantarkan ini.” Suster memberikan ponsel dan jam tangan ayah pada Dinda.
Dinda kembali melakukan sebuah pekerjaan sederhana yang baru ia tahu begitu berat dilakukan, yakni menunggu, sambil memandang jam tangan ayahnya dan memerhatikan jarum jam yang terus berdetak keras di telinganya. Suaranya bahkan terngiang hingga masuk ke dalam pikiran. Begitu lambat, namun semakin cepat. Di saat itulah mata Dinda kembali menitihkan air mata berikut dengan penyesalan yang begitu mendalam atas ucapannya yang telah menyakiti hati ayah. Dan pada akhirnya ia mengerti bagaimana perasaan ayah bila sedang menunggunya pulang dari sekolah, bersama sang detik waktu.
Sejak kecelakaan itu, Dinda berusaha memperbaiki sikapnya pada ayah yang kini harus duduk di kursi roda. Dinda mengerti, bahwa ayah hanya kesepian. Yang ayah inginkan hanyalah keberadaan Dinda di sisinya, di usia senjanya. Dinda akhirnya meminta maaf pada ayahnya dan berjanji tidak akan melarangnya lagi untuk sekadar menelepon. Dinda juga berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan lagi membuat ayahnya menunggu terlalu lama, dan akan lebih banyak menghabiskan setiap detik yang ia miliki bersama sang ayah.
----------------------------------------------------------------------------
Kirim Tulisanmu di Nulis.
Cerpen, puisi, artikel atau tulisan lainya.

Sy Tahtra / Author

Mari berkarya bersama Sahabat Menulis Nusantara.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib