Ayo bergabung bersama kami sekarang !

Isi formulir

Kamis, 20 April 2017

Kembali Kepada Al Qur'an

Siti fatimah mandini

KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN 
Oleh: Heri Gunawan


(Penulis artikel-artikel keislaman)
Seiring perkembangan zaman yang semakin canggih dan modern ini, manusia semakin mudah melakukan segala sesuatu. Entah  itu mulai dari mengerjakan dan menyebarkan kebaikan hingga melakukan berbagai kejahatan dan kegaduhan kegaduhan lainnya. Ujaran kebencian, caci maki, hingga berita bohong (hoax) hampir menjadi makanan setiap hari dan tersebar bebas melintas tanpa batas kemana-mana bahkan hingga masuk kerumah rumah tanpa kita sadari. Sehingga kebenaran menjadi abu-abu dan sesuatu sangat sulit untuk didapatkan. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan seorang ulama bahwasanya tanpa kalian sadari ada syetan dikantongmu yang selalu engkau bawa kemana-mana. Ya, tidak lain adalah handphone dan gadged yang kita pegang ini dalam tanda kutip apabila kita tidak bisa memanfaatkan alat-alat tersebut dengan baik. Saya teringat Al-Magfurlah KH Hasyaim Muzadi mengatakan bahwa menyebar hoax (kebohongan) adalah salah satu bentuk kekufuran kepada Allah.

Beberapa waktu lalu saya sentak terheran dan melengo setelah membaca satu berita seorang ibu (kalau tidak salah dia dari Bogor) yang tertipu oleh janji-janji manis di media sosial sehingga puluhan juta uangnya pun hangus. Ini adalah sebuah bukti dengan kamajuan yang ada saat ini betapa mudahnya seseorang malakukan tindak kriminal. Penjahat atau (mohon maaf) bandit bandit brengsek tersebut tidak hanya menyerang secara fisik tetapi meraka sangat lihai mengelabui mangsanya dengan alat alat moderen yang ada saat ini. Terkait keadaan kita seperti sekarang ini  sejatinya al-Quran telah mangajarkan kita cara bermedia sosial atau hendaknya selalu menyaring setiap kabar dan berita yang ada. (Lihat Qs. AL-Hujurat [49]: 6).

Sungguh kemajuan dan moderinitas saat ini bagai dua mata pisau yang sangat membantu namun di sisi lain siap menusuk siapa saja. Sungguh dengan sagala kemudahan yang diberikan Tuhan kepada manusia bukannya disyukuri tapi malah sebaliknya semakin membuatnya semakin jauh dan lupa kepada Allah. Dalam kondisi kita seperti inilah, sungguh indah untuk direnungi untaian hikmah yang tulis Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam magnum opus (karyanya) kitab Al-Hikam (kitab ini dijuluki kitab tasawuf sepanjang masa) yang berbunyi "Berhati-hatilah bila kebaikan Allah selalu engkau dapatkan bersamaan dengan maksiat yang engkau lakukan. Berhati hatilah bisa jadi itu adalah kehancuranmu yang berangsur angsur. Kami akan menarik mereka dengaan berangsur angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui" (Qs. Al-Araf [7]: 182.

Ungkapan Ibnu Athaillah di atas sejatinya adalah rambu rambu atau lonceng bagi kita untuk selalu introspeksi dan mawas diri, Apakah segala nikmat Allah sesuai dengan amalan dan ketaatan kita kepada-Nya. Ketika seseorang selalu melanggar perintah Allah, berbuat maksiat, menyalakan api permusuhan dimana-mana tetapi kucuran nikmat dan anugrah-Nya terus mangalir kepada pendosa tersebut maka ketahuilah dan hati hatilah jangan-jangan pemberian tersebut adalah istidraj. Nikmat tersebut terus mengalir tetapi dibarengi dengan api siksa yang membara.

Seorang ulama Mesir Syekh Abdullah as-Syarqawi mensyarahkan (menjelaskan) ungkapan Ibnu Athaillah di atas mengatakan terkadang kita melihat banyak orang yang tidak bersyukur atas nikmat Allah akan tetapi nikmat itu tidak berkurang darinya.  Bisa jadi hal itu adalah proses penarikan nikmat tersebut dengan cara berangsur-angsur sehingga mareka tidak menyadari bahwa nikmat tersebut adalah murka Allah dan pada akhirnya nikmat tersebut akan direnggut  secara tiba tiba.  Ada juga yang berpendapat lanjut Imam as-Syarqawi dengan nikmat yang bergelimang ini mereka lupa bersyukur dan  tidak menyadarinya dan pada saat itulah Allah menarik nikmat itu secara tiba tiba.
Lalu timbul
pertanyaan mengapa kondisi kita seperti.??
Apakah penyebabnya.???
Jawaban pertanyaan ini tidak lain adalah kita saat ini sangat jauh dari al-Quran.  Jauh dari kitab suci (al-Quran) bukan berarti mereka (nauzubillah) tidak memilikinya, bukan berarti mereka tidak bisa membacanya, karena sungguh banyak yang bisa membaca bahkan hingga menghafal namun sangat sedikit yang bisa mengamalkan nilai nilai dari al-Quran itu sendiri. Dalam sebuah ayat diceiritakan bahwa Nabi Pernah mengadu kepada Allah:
"Berkatalah Rasul: " Ya Tuhanku sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan. (Qs. Al-Furqan [25]: 30). Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ini adalah keluhan atau pengaduan Nabi kepada Allah pada waktu itu yang tidak percaya kepada Al-Quran dan mengatakan bahwa al-Quran adalah sihir dan syair.

Menafsirkan ayat ini Buya Hamka menjelaskan Allah menganjurkan kita untuk selalu membaca dan bercengkrama dengan al-Quran. Moga moga dengan bacaan al-Quran ini akan merasuk ke relung hati sanubari. Sehingga ia menyelusuk ke rongga diri kita, menjadi bagian dari darah daging kita dan pada akhirnya al-Quran manjadi lentera dan pandangan dalam hidup. 

Sedangkan Qurais Shihab menjelaskan ayat di atas tidak menutup kemungkinan sebuah pengaduan Rasul  telah lalu dan akan terulang kembali pada hari kiamat. Ini bila dilihat dari susunan ayat tersebut. Seruan Nabi ini juga mennujukkan betapa sedih dan luka hati beliau melihat orang orang yang meninggalkan Al-Quran dan jauh dari segala tuntunan dan ajaran-ajarannya.

Sebagai akhir dari tulisan ini marilah kita menengok diri kita, apakah kekayaan yang melimpah, karir yang semakin maju, prestasi semakin naik, waktu terasa singkat karena terisi kesibukan dan pekerjaan yang semakin padat ini sesuaikah dengan kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah. Sesuaikah pemberian-Nya dengan ibadah kita kepada-Nya. Di sela sela kesibukan hidup yang semakin kompleks ini marilah kita merenung bersimbah menangis di hadapan-Nya.
Sahabat Menulis Nusantara

Siti fatimah mandini / Author

Mari berkarya bersama Sahabat Menulis Nusantara.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib