Ayo bergabung bersama kami sekarang !

Isi formulir

Kamis, 30 November 2017

Ombak itu Datang

isma hidayati


Ombak itu Datang
Ditepi pantai
Terdengar sunyi
Tak satupun tempat yang sepi
Aku hindari
Dari satu titik 
Ke titik lain.
Sampai datang sebuah ombak
Iya ombak yang datang
Suaranya yang ramai
Gemuruh
Tak kuasa aku melihat
Dengan tersayat-sayat
Dan aku mulai tenggelam
Di saat itu seperti suram

Diatas gemuruhnya Badai

isma hidayati

Diatas Gemuruhnya Badai
Kulihat sebuah sajak
Disamping sebuah pena
Tidakkah aku lanjutkan
Sebuah perjuangan untuknya
Sembari aku menoleh
Kulihat suara gemuruh
Air yang begitu jernih
Menerpa seluruh tubuh
Tapi aku tahu
Semua itu palsu
Aku berpaling dan berkata:
Hai, kau seseorang yang datang kepadaku
Dengan suara gemuruh
Diatas gemuruh badai
Menerpa dengan sepoi-sepoi

Rabu, 29 November 2017

Sabda Alam Dan Tangis Tak Bersuara

Fithria Azizah

                       Akhir-akhir ini aku tidak suka melihat hujan turun dengan deras
Ada tangis-tangis tak bersuara dari mereka yang tergerus musibah
Air mulai menggenangi setiap sudut kota
Tanah mulai meluruhkan dirinya menimpa rumah-rumah warga

Namun aku lebih tidak suka pada mereka-mereka yang tamak dan rakus kekuasaan
Ditengah hiruk pikuk musibah yang semakin parah
Penguasa-penguasa itu sibuk menghilangkan dahaganya
Rumah-rumah rakyat  biasa mereka renggut
Aliran-aliran listrik mereka padamkan
Sawah, ladang mereka hancurkan

Merekalah si otak culas yang bertameng jas dan dasi
Merekalah lintah darat yang berpakaian priayi

Semua ini seperti sebuah kutukan alam yang mulai lelah dan marah
Rumah-rumah mulai porak poranda rusak tak lagi tersisa
Banjir, tanah longsor, angin kencang mulai memainkan perannya akhir-akhir ini
Dan mereka pun tertawa dan bergumam “Serahkan saja rumah dan tanahmu agar banjir dan longsor tak lagi menghantuimu”
Sungguh, betapa bedebahnya mereka

Mengapa musibah itu tak datang saja pada mereka-mereka penguasa kikir
Penguasa-penguasa yang hanya memuja kehormatan dan uang
Harusnya merekalah yang hanyut tersapu banjir dan terkubur tanah yang longsor
Bukan rakyat biasa yang tak berdaya
Yang hanya bisa berpasrah pada yang maha kuasa

Selasa, 28 November 2017

Mereka

Ahmad Fatoni

MEREKA


Ada yang kembali dengan tenang
Di arak dari rumahnya hingga tidur tersenyum menyambut malaikat
Di lubang dulunya dia lahir

Ada yang datang membawa resah
Dengan tangis yang menggema di sudut kota
Kemudian dia tertawa bahagia, tanpa merasa dosa

Sarang, 2017



Jumat, 24 November 2017

Hujan Sewangi Kasturi

Fithria Azizah

        Sayang, ini sudah masuk musim penghujan
Tanah-tanah mulai basah dan berlumpur
Petani tersenyum penuh kepuasan
Tetapi para penguasa negara itu mulai gusar

Bau wewangian menyeruak ketika ia turun
Pohon,daun dan dahannya kembali subur
Kemarau bulan lalu membuat semuanya layu
Tetapi tidak dengan cintaku padamu

Kau adalah butir-butir air yang turun itu
Kau membawa kesejukan bagi setiap insan yang papa
Wangimu aku suka, menikmati aromamu membuatku lupa
Kaulah segala dalam setiap bahagia, duka dan nestapa

Jangan jadi iblis yang murka
Meninggalkan jiwa-jiwa pesakitan cinta
Jadilah malaikat yang rupawan
Agar wangimu menyeruak keangkasa

Denting jam berbunyi siang ini
Dan kau menjatuhkan dirimu lagi
Masih sama, dengan aroma kasturi yang wangi
Aku pun menyambutmu dengan kegirangan hati 


Sayang, kaulah wangi kasturi itu yang turun melalui hujan siang ini 


Kamis, 23 November 2017

Merintiknya Hujan

isma hidayati

Merintiknya Hujan
Hari ini 
Di siang hari
Yang biasanya cerah
Kusebutkan sebuah makna
Keindahan yang tak terungkap
Karena sebuah mendung dan hujan
Hujan berteriak dan mennguyur bumi

Sebuah kata yang tak bermakna menjadi makna
Sebuah rindu yang ada menjadi hilang
Sebuah suara yang merdu aku dengar
Bersuara tik... tik.... tik....
Kumelihat di depan 
Hujan datang
Ketika sayap sudah melebar
Aku pun tau itu sudah tersebar

Fondasi Hidup

faathimah zamrudul jannah

Fondasi Hidup

Hidupku susah
Mau belajar,
Rasanya penat
Mau ibadah,
Buat jalan berat

Terimakasih Sabeum ( Guru )

Redaksi smnindonesia


Challenge Puisi @sahabatmenulisnusantara with @nullapuella.id 17

Terimakasih Sabeum ( Guru )

Tak semua yang diperhatikan bermanfaat, tak semua yang tak diperhatikan tak berguna. 
Negara ini tak memberimu gelar pahlawan, tapi bagi kami kau adalah pahlawan, yang telah mengorbankan waktumu hanya untuk menjadikan kami kuat.

Kau, bukan hanya mengajarkan kami beladiri, Bukan hanya menjadikan kami lelaki sejati.
Kau mengajarkan kami, bagaimana menikmati rasa sakit,
Dan menjadikan kami pribadi yang menghormati orang lain... Agar kami tidak terjerumus dalam kesombongan

Kau korbankan waktu-mu pada kami,
Mengajari kami dari lemah menjadi kuat, Kau adalah pahlawan yang tak di sadari orang - orang.
Guru kami tidak akan lupa pada jasamu.

PAHLAWAN PRIANGAN

Redaksi smnindonesia


Challenge Puisi @sahabatmenulisnusantara with @nullapuella.id 18

PAHLAWAN PRIANGAN
oleh : Tika Resti Safitri

Dulu, kau pemuda pemburu merdeka
Berjuang terlepas dari penindasan
Kau sesosok pejuang kebebasan
Dari belenggu nestapa sang pertiwi

Dulu, kau relakan masa indahmu direnggut pilu
Kau sudi kehilangan titik amanmu
Demi menuju sebuah pengharapan bangsa
Kemerdekaan jelasnya.

Dulu, bentuk juangmu begitu gemuruh
Gencar melawan kejamnya 'mereka'
Api semangatmu begitu membara
Membakar segala peluh negeri ini

Dan kini, tinggal lah nama dan sebaris kenang
Tugu di Bandung menjadi saksi bisu
Menyiratkan makna juang yang kau geluti
Kau lah Toha, pahlawan muda tanah Priangan 
Bandung, 22 November 2017
Dari lubuk hati seorang mojang pengenang pahlawan

Benih Cinta Terbungkus Luka

Jamal Ke Malud








Serangan menusuk bertubi-tubi
Hari senin kemaren, Kau robek dagu, kaki, dan tanganku
Hari itu juga, Kau pertemukan ku dengan kecantikan-Mu
Robekan itu pun hanya tinggal di daging saja
Tak terasa apa-apa
Dibanding dengan robekan kecantikan-Mu itu
Kecantikannya masuk ke dalam hatiku
Merobek rasaku
Menyuburkan rinduku

Hei, bukankah Kau tahu rindu itu pedih
Oh, terimakasih telah Kau pedihkan hatiku dengan rindu
Rindu kecantikan-Mu
Lalu kenapa Kau belenggu ku dengan rindu dan kecantikannya

Robek di dagu, kaki, dan tangan ini tak ada artinya
Tak sakit sama sekali
Jika dibanding dengan sobek di hati oleh rindu
Meski terasa sakit, robek fisik itu kan lenyap
Tapi robek karena rindu dan cantik,
Lenyap ku tak mau, bertahan ku tak mampu

Oh, siksaan macam apa ini
Oh, siksa yang mengingatkanku pada kasih-Mu
Ku yakin, hanya yakin saja
Bahwa semua robek fisik dan hati ini
Adalah salah satu bentuk kasih sayang-Mu

Oh, robeklah ku asal itu cinta-Mu
Alirkan air mataku di hadapan-Mu
Pecahkan ku asal itu kasih-Mu
Muramkan wajahku di gelapku
Jemputlah ku kepada-Mu
Dengan robekku atau robek-Mu

Cantiknya selalu menyayatku
Tak mau ku menemuinya, tapi tak mungkin
Ku butuh obatnya agar robek fisikku pulih

Kau pertemukanku dengannya
Itu menyakitkanku
Kecuali dengannya ku bisa mengikat
Sebuah tali abadi

Terimakasih sakit ini kau sentuhkan kepadaku
Dengannya ku tahu sebuah rasa
Rasa sakit untuk mencintainya
Agar ku bisa mencintai-Mu

Oh, Kekasih
Betapa kasih-Mu tak mampu ku ungkap
Bahkan di robekan saja, bermiliar kasih dan cinta-Mu
Oh, Kekasih
Belum mampu ku ungkap kasih dan cinta-Mu padaku
Kecuali dalam cinta dan kasih
Lalu kenapa ku alpa melihat cinta dan kasih-Mu di dalam luka
Oh, Kekasih
Betapa alpanya diriku
Oh, Kekasih
Siramilah ku dengan kasih sayang dan cinta-Mu
Terimakasih atas benih cinta yang Kau bungkus luka
Tanpa luka berdarah ini, tak kan mampu ku merasakan-Mu

Jangan lukaiku lagi
Tapi beningkan
Apakah luka ini tak lain adalah darah kotor
Kau sudah membekamku
Jangan-jangan, Kau sudah mulai membeningkanku
Tanpa ku rasa

Oh, Kekasih
Betapa murah hatinya Kau
Betapa dungunya ku
Oh, Kekasih

Jamal Ke Malud
Kemang, Jampang, Bogor
23/11/17

IBU

Redaksi smnindonesia


Challenge Puisi @sahabatmenulisnusantara with @nullapuella.id 19
IBU

Kasihmu tak berbanding
Cintamu tak berujung
Jasamu tiada akhir
Pengorbananmu tak terfikir

Tak sanggup ku membalasmu
Walau habis darahku
Tak kan cukup menggantikan jerihmu
Kini kan kubanggakan dirimu

Dengan semua tingkah laku ku
Tugasku memastikan keberhasilanmu
Beristirahatlah mentari hidupku
Tunggu aku dalam tidur panjangmu

Palembang, 16-10-2017

Andaian Pagiku

Redaksi smnindonesia


Challenge Puisi @sahabatmenulisnusantara with @nullapuella.id 20
Andaian Pagiku

Sempat menggerutu pagi itu
saat dering membangunkanku,
diangka sepuluh aku mengeluh.
Andai saja dulu mereka diam membisu,
tanpa bergerak, teriak, memberontak,
mungkin pagiku akan lebih panjang.
Andai saja di masa lalu mereka diam tak mau tahu,
tentu aku tak perlu datang, memberi salam penghormatan.
Demikian pikirku,
Tapi. . .
Kibarnya Sang Saka lebih utama
dari sekadar umpatku yang sia-sia.
Juang mereka lebih berharga,
dibanding dingin pagi yang menyapa.
Ah Tuhan, perkara apa aku murka, bila
pagiku terusik oleh rutinitas upacara.
Atas dasar apa aku benci,
angka sepuluh yang berarti.
Andai saja waktu lalu mampu terulang,
Bolehkah aku ikut berjuang, Tuhan?

Malang, 22 November 2017

Pahlawan

Redaksi smnindonesia



Challenge Puisi @sahabatmenulisnusantara with @nullapuella.id 21

 Pahlawan


Jauh mata meneropong
Angan terbang melayang
Hati bergejolak melangkah
Bela nusa bangsa 
Hujan badai ,panas terik 
Tak halangi semangatmu 
Walau berkeringat darah 
Kau terus melangkah 
Tak takut hilangnya nyawa 
Walau panas peluru menembus dada



Kau korbankan jiwamu
Tuk lindungi kami
Tuk gapai satu tujuan
Tujuan mulia di sanubari
Nan kita kenal
Kemerdekaan!


Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib