Ayo bergabung bersama kami sekarang !

Isi formulir

Kamis, 19 April 2018

ULANG TAHUN KE 26 DAN SEBUAH SURAT UNTUK AYAH

Ahmad Fatoni
ULANG TAHUN KE 26 DAN SEBUAH SURAT UNTUK AYAH
Oleh: Ahmad Fatoni

Pernah Rita bilang kepada Ayahnya agar ulang tahunnya tidak pernah sekalipun dirayakan. Meniup lilin di atas kue tar, menyuapkan kue kepada orang yang tersayang, dan menerima hadiah dari temannya. Sungguh dia tidak senang melakukan kegiatan rutin itu. Apalah gunanya meniup lilin, berdoa sebelum meniupnya dan sebagainya. Atau pernah satu kali dia diberikan kejutan oleh teman-temannya di sekolah. Tanpa bilang-bilang, Teman-temannya membawa tepung dan telur yang dilumurkan ke tubuhnya. Lantas dia kesal sekali. Apakah harus seperti itu. Tanyanya dalam hati. Terpaksa dia pura-pura bahagia, terharu, menitikkan air mata di depan teman-temannya hanya karena takut teman-temannya kecewa dia tidak senang mendapat kejutan itu.
Sebenarnya Rita lebih senang mendapat kejutan lain. Kejutan yang lebih dari itu. Ucapan sederhana saja, doa sederhana saja, tanpa harus repot-repot membeli kue tar, telor dan tepung, hadiah-hadiah, dan segala persiapan ketika acara ulang tahun di rumahnya. Tanpa itu adalah kejutan yang luar biasa.
Tapi dia tidak bisa berkata tidak senangnya pada teman-temannya. Hanya kepada Ayahnya saja. “Tidak usah repot-repot ayah. Cukup Ayah di sisi Rita, Rita sangat bahagia.” Katanya suatu ketika. Dia menolak rencana Ayahnya membuat acara ulang tahun untuknya.
“Mamamu sering melakukannya untukmu. Sebelum Mamamu meninggalpun dia sempat menyuruhku membelikan kue Tar untukmu. Dia ingin melihat ulang tahunmu terakhir kalinya.” Jelas Ayahnya ketika Rita menolak secara lembut.
Mama Rita meninggal pas ketika ulang tahun Rita yang ke-16. Setelah Rita meniup lilin di atas kue. Mamanya pun mengatupkan matanya dan tarikan nafasnya yang terakhir. Dia dikena penyakit kanker otak kronis. Satu bulan lamanya Mama Rita berada di rumah sakit hingga kemudian meninggal.
“Tapi Aku tidak mau, Ayah. Dari kejadian itu bukan berarti Mama menyuruh Ayah mengadakan ulang tahun rutin untuk Rita.” Bantah Rita dengan lembut.
Ayah Rita mendekat. “Ayah akan selalu ada di Sisimu. Jangan Khawatir.” Tangannya mendekap tubuh Rita. Tapi Rita mendengus kesal. Tak pernah ayahnya di sisiny. dia haya sibuk denga diriny sendiri. “Tapi acara ulang tahun tetap akan dilaksanakan. Biar teman-temanmu datang ke sini. Biar ramai rumah ini. Sejak kepergian mamamu, Rumah ini sedikit sepi.” Lanjutnya.
Rita mengerti dengan paksaan itu. Ayahnya ingin Rita punya teman yang serius untuknya. Alasan itu muncul sejak Rita sudah berumur dua puluh tahun dan dia tumbuh menjadi perempuan cantik. Apalagi sekarang, Umurnya sudah Dua puluh lima dan Rita masih menutup diri pada laki-laki. Bukan karena sulit, tapi memang Rita tidak mau diajak pacaran. Di dalam pikirannya hanya Ayahnya. Dia ingin terus dekat dengan ayahnya.
Terkadang dia harus menelpon Ayahnya, menyuruhnya pulang cepat-cepat dari kantor ketika dirinya gusar. Pikirannya tidak nyaman. Seperti ada yang mengejar dalam dirinya.
Tapi ayahnya tidak pernah pulang dan mengirimkan teman Rita sendiri untuk menemaninya hingga Ayahnya pun pulang. Maklum Ayah Rita adalah seorang bos di sebuah perusahaan. Jadi dia sangat sibuk di kantornya.
Rita pun sabar. Tapi Rita berharap ayahnya sudah membaca surat di meja kerjanya. Meja yang dia tulis seminggu yang lalu dan diletakkan di meja kertas Ayahnya ketika itu juga. Dia menulisnya ketika usianya sudah dua puluh lima. Setelah acara baru saja selesai tadi malam. Ya. Pagi hari dia menulisnya.
***
Tahun ini adalah tahun yang berat bagi Rita. Tubuhnya semakin lemah dan kurus. Ketika ditanya oleh Ayahnya kenapa dia sekarang. Rita tidak menceritakan apapun.
Dia bilang “Bergaullah! Jangan berkurung di rumah terus. Lihatlah tubuhmu semakin kurus.”
Rita tidak menghiraukan itu. Dia hanya ingin dekat dengan Ayahnya. Sepanjang malam. Dan pertama tidak ingin merayakan ulang tahunnya yang ke-26. Dia ingin mendengar Ayahnya solat dan berdoa untuknya ketika hari ulang tahunnya.
Rita sering bertanya kepada Ayahnya. Apakah dia sempat mendoakannya. Sesuai pintanya waktu itu. Ayahnya menjawab iya. Tapi Rita tahu, Ayahnya tidak pernah melakukan itu. Meski Ayah Rita menjadi kepala keluarga yang baik dari sisi nafkah keluarga, tapi Rita tidak pernah melihat Ayahnya menengadah di atas sajadah, apalagi solat. Entah kenapa dia ingin melihat Ayahnya solat. Satu kali saja dalam hidupnya.
Sepanjang hari tidak ada yang Rita lakukan. Ayahnya sebenarnya sudah memberikan posisi kerja. Tapi Rita bilang belum siap. Nanti jika dia sudah siap mengambil posisi itu, dia akan bekerja di perusahaan ayahnya itu.
Kerjanya hanya di kamar. Memandangi atap, sembari tiduran di kasur atau duduk di dekat jendela, memandangi ladang pohon pisang. Ya. Tahun ini dia lebih sering memandagi ladang itu. Lebih sering dari sebelumnya. Ada kuburan Mamanya di sana. Lantas Rita menitikkan air mata, mengusap dengan tisu, atau sampai terisak, hingga seorang yang lewat dekat rumahnya harus terheran-heran melihat tingkah Rita.
Ketika ayahnya datang malam-malam karena sering lembur di kantornya. Dia hapus seluruh air matanya, bangun dari lamunannya. Semangat tiba-tiba datang, dia bertanya banyak hal, apakah sudah berdoa untuknya, apakah suratnya sudah di baca. Ayahnya akan menjawab ’Iya nanti’. Rita kembali harus pura tersenyum. Dia tak tega menampakkan kekecewaan di hadapan orang tua yang baru saja bekerja. Hingga kemudian Ayahnya kembali ke kamarnya. Lalu Rita mengantar air hangat untuk Ayahnya. Hanya pura-pura. Dia ingin tahu ayahnya sedang melakukan solat apa belum dan membaca suratnya apa belum.
Tapi masih sama dengan sebelumnya. Bisa dikata belum sempat Ayahnya melakukan hal itu. Tapi Rita tetap berharap dia akan melakukannya.
Hingga tiga hari sebelum hari ulang tahun Rita, Segala suasa hatinya berbeda. Dia mulai diam. Entah kenapa, Pernak-pernik di rumahnya, pemeriah hari ulang tahunnya seperti tak ada. Ayahnya mengambil cuti selama seminggu dari kantor demi acara ulang tahun anaknya meriah. Teman-teman Ayahnya diundang menjadi panitia. Sepertinya hari ulang tahun kali ini lebih meriah. Tapi tidak untuk Rita. Dia gusar di dalam rumah. Tubuhnya semakin kurus.
Hari H sudah berlangsung, Acara ulanng tahun berlangsung di dalam rumah dan halaman. Tapi Rita tidak keluar sejak malam. Membuat seluruh undangan terheran-heran. Begitu juga dengan Ayah Rita.  
Ayah Rita mulai gusar juga. Sedang tamu mulai bercanda tawa, ada yang berbisik karena yang ulang tahun belumlah keluar. Kemudian Ayah Rita menjemput Rita ke dalam kamar. Rita Terkejut. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya semakin krempeng. Seperti tua melampaui umurnya
“Ayo. Jangan biarkan tamumu bingun yang ulang tahun belum keluar.” Ajak Ayahnya.
Rita membalikkan badan dari arah jendela. “Ayah sudah baca surat di meja?” Tanya Rita
“Ada apa dengan surat itu. Lebih penting acara hari ini ayo.” Paksa ayahnya.
“Semuanya akan berubah jika Ayah belum baca  surat itu.”
“Iya nanti. Sekarang ayo temui tamumu dulu.”
Mereka keluar dengan sedikit ragu. Wajahnya semakin pucat. Dia tidak bisa menolak Ayahnya. Pokoknya dia tidak bisa menolak Ayahnya. Dia harus keluar bersamanya. Dan Tiupan lilin itu. Merubah segalanya. Seperti matahari yang redup ketika berubah menjadi malam. Semuanya tidur, tak terlihat. Mereka semua berada di alam lain. Alam yang berbeda dari Rita. Rita penghuni manusia penunggu pada mahsyar.
Diboponglah tubuh Rita yang milik dunia ke kamarnya. Tak sempat Rita memotong kue untuk dipersembahkan pada orang tersayang. Matanya tertutup seiring matinya lilin.
Tangis bersahut-sahutan dari teman-teman Rita. “Wajahmu seperti tak punya kebahagiaan di dalam istana perkasa ini.” Ucap salah satu dari mereka melihat tubuh kurus Rita.
Ayah Rita berlari. Teringat sesuatu pada surat di mejanya.  Berlarilah sekencang tenaganya di lorong rumah hingga sampai di kamarnya sendiri. Dia masuk. Teringat kalimat anaknya yang sering membujuknya untuk membaca surat itu. Teringatlah dia tak memperdulikan ananya

Untuk ayahku,

Seorang lelaki telah menyelinap ke kamarku ayah. Dia lancang merenggut sesuatu paling berharga dalam diriku. Ketika berhari-hari engkau meninggalkanku. Sebulan kemudian badanku demam. Aku kena penyakit ganas. Dari seorang dokter memberi sebuah kabar, aku terkena penyakit mengganaskan akibat perenggutan berharga itu.
Ayah aku hanya butuh engkau di sisikku. Sampai ulang tahunku yang ke 26. Segalanya akan terjadi hari ulang tahunku mendatang.

Dari anakmu.


Sarang, 20 April 2018

Ahmad Fatoni / Author

Mari berkarya bersama Sahabat Menulis Nusantara.

0 komentar:

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib